Petaniku Kalang Kabut
Negara
Indonesia adalah negara agraris. Luas lahan pertanian yang dimiliki Indonesia 39.5 Juta Ha
dengan pembagian, Lahan Sawah 8.1 Juta Ha, Tegal/Kebun 11.9 Juta Ha, Ladang
5.25 Juta Ha, dan, Lahan yang sementara tidak diusahakan 14.25 Juta Ha (sumber
: www.pertanian.co.id). Luas tersebut memakan sekitar 23% luas daratan
Indonesia. Maka, pantas saja Indonesia disebut sebagai negara agraris.
![]() |
| Wawancara dengan petani |
Negara
agraris ? apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata itu selain banyak sawah
?. Ingat dengan petani ? petani sebagai dalang dari adanya negara agraris, itu
tidak dapat dipungkiri. "Petani", apa yang terpikir
oleh kalian jika mendengar kata tersebut, sawah, lumpur, tanaman, pekerja keras
atau bahkan manusia dengan bau terik matahari ?. Petani memang identik dengan
kata-kata itu, tapi sadarkah kita dengan adanya petani, dengan sebuah profesi
yang identik dengan lumpur di sawah ?. Tanpa mereka mungkin saat ini kita tak lagi
bisa hidup, mau makan apa kita tanpa petani, karena hasil kerja keras petani
bergulat dengan lumpur, memeras keringat ditengah panas dan hujan demi
menghasilkan produk pertanian yang selanjutnya dapat kita konsumsi demi
memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hal makan.
Dikutip
dari data BPS, yang menyatakan bahwa setiap orang membutuhkan beras 139
Kg/tahun atau 380 gr/hari. Sedikit bukan ? ya, sedikit karena hanya satu orang.
Padahal, penduduk Indonesia lebih dari 250 juta orang. Jika dihitung-hitung,
Indonesia tiap tahun harus menyediakan beras berjuta-juta ton. Itu hanya beras,
belum kebutuhan pangan yang lain. Bisa dibayangkan bagaimana kerja kerasnya
petani untuk menghidupi jutaan manusia Indonesia. Pernahkan kalian yang
dihidupi oleh petani, memikirkan nasibnya ?. Petani tinggal jauh dari hiruk
pikuk indahnya lampu-lampu jalan yang menghiasi setiap sudut kota yang indah. Petani
hidup dalam garis kemiskinan di daerah-daerah terpencil yang jauh dari
fasilitas negara yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia
tanpa terkecuali.
Menghasilkan
produk pertanian bagi petani bukanlah hal yang mudah, banyak yang harus
dilakukan oleh petani, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan,
panen, sampai pasca panen. Semua hal tersebut bukan tanpa biaya, tapi sangat
membutuhkan banyak biaya. Pada kenyataannya, petani sering merugi, meskipun
berproduksi. Hal tersebut disebabkan karena biaya produksi lebih tinggi
daripada hasil jual dari produksi itu sendiri. Biaya produksi yang tinggi
diakibatkan karena unsur-unsur produksi juga sangat mahal, terutama pupuk,
meskipun ada subsidi pupuk dari pemerintah. Fakta yang terjadi di lapangan, tak
banyak petani yang mendapatkan pupuk bersubsidi. Pupuk yang seharusnya
dinikmati petani, justru menjadi santapan empuk para distributor nakal yang
oper-oper pupuk ke perkebunan-perkebunan besar dengan harga jual yang lebih
tinggi, sesampainya dikios pengecer pun begitu, pupuk sengaja ditimbun untuk
menunggu harga meninggi. Bak jatuh ditimpa tangga pula, mungkin seperti itulah
petani, harga pupuk dan pestisida sudah tinggi, ditambah lagi harga jual produksi
yang murah meriah.
Petani
benar-benar “kalang kabut”. Logika dan nurani petani sangat dipermainkan.
Bagaimana tidak, kalian bisa berpikir kalau petani itu adalah orang yang paling
bodoh. Kenapa paling bodoh ? karena petani mau berkorban demi kehidupan orang
banyak, padahal petani sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari
pengorbanannya itu. Jika petani itu dapat berpikir realistis, pasti petani akan
menghentikan pengorbananya, lalu mencari mata pencaharian yang lebih
menguntungkan untuknya. Tapi sayangnya, petani nuraninya lebih besar, petani
begitu mulia dengan memilih tetap berkorban menghidupi jutaan rakyat Indonesia.
Seharusnya
“kalang kabut” nya petani dapat diminimalisir atau bahkan dihapuskan, dengan
upaya dari pemerintah, orang-orang yang terlibat langsung dengan petani, atau
bahkan yang tidak terlibat langsung dengan petani sekalipun. Lindungilah hak-hak
petani sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa, siapapun kalian, tidak peduli pejabat, mahasiswa, siswa, ataupun hanya orang biasa. Upaya tersebut seyogyanya
diberikan sebagai tanda terima kasih atas kemuliaanya. Setidaknya jangan sampai
ada slogan “Petani adalah pahlawan kehidupan yang terabaikan”.





0 comments:
Post a Comment