Wednesday, June 14, 2017

Nasib Pahlawanku

Leave a Comment


Petaniku Kalang Kabut

Negara Indonesia adalah negara agraris. Luas lahan pertanian yang dimiliki Indonesia 39.5 Juta Ha dengan pembagian, Lahan Sawah 8.1 Juta Ha, Tegal/Kebun 11.9 Juta Ha, Ladang 5.25 Juta Ha, dan, Lahan yang sementara tidak diusahakan 14.25 Juta Ha (sumber : www.pertanian.co.id). Luas tersebut memakan sekitar 23% luas daratan Indonesia. Maka, pantas saja Indonesia disebut sebagai negara agraris.
Wawancara dengan petani
Negara agraris ? apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata itu selain banyak sawah ?. Ingat dengan petani ? petani sebagai dalang dari adanya negara agraris, itu tidak dapat dipungkiri. "Petani", apa yang terpikir oleh kalian jika mendengar kata tersebut, sawah, lumpur, tanaman, pekerja keras atau bahkan manusia dengan bau terik matahari ?. Petani memang identik dengan kata-kata itu, tapi sadarkah kita dengan adanya petani, dengan sebuah profesi yang identik dengan lumpur di sawah ?. Tanpa mereka mungkin saat ini kita tak lagi bisa hidup, mau makan apa kita tanpa petani, karena hasil kerja keras petani bergulat dengan lumpur, memeras keringat ditengah panas dan hujan demi menghasilkan produk pertanian yang selanjutnya dapat kita konsumsi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hal makan.
Dikutip dari data BPS, yang menyatakan bahwa setiap orang membutuhkan beras 139 Kg/tahun atau 380 gr/hari. Sedikit bukan ? ya, sedikit karena hanya satu orang. Padahal, penduduk Indonesia lebih dari 250 juta orang. Jika dihitung-hitung, Indonesia tiap tahun harus menyediakan beras berjuta-juta ton. Itu hanya beras, belum kebutuhan pangan yang lain. Bisa dibayangkan bagaimana kerja kerasnya petani untuk menghidupi jutaan manusia Indonesia. Pernahkan kalian yang dihidupi oleh petani, memikirkan nasibnya ?. Petani tinggal jauh dari hiruk pikuk indahnya lampu-lampu jalan yang menghiasi setiap sudut kota yang indah. Petani hidup dalam garis kemiskinan di daerah-daerah terpencil yang jauh dari fasilitas negara yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Menghasilkan produk pertanian bagi petani bukanlah hal yang mudah, banyak yang harus dilakukan oleh petani, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan, panen, sampai pasca panen. Semua hal tersebut bukan tanpa biaya, tapi sangat membutuhkan banyak biaya. Pada kenyataannya, petani sering merugi, meskipun berproduksi. Hal tersebut disebabkan karena biaya produksi lebih tinggi daripada hasil jual dari produksi itu sendiri. Biaya produksi yang tinggi diakibatkan karena unsur-unsur produksi juga sangat mahal, terutama pupuk, meskipun ada subsidi pupuk dari pemerintah. Fakta yang terjadi di lapangan, tak banyak petani yang mendapatkan pupuk bersubsidi. Pupuk yang seharusnya dinikmati petani, justru menjadi santapan empuk para distributor nakal yang oper-oper pupuk ke perkebunan-perkebunan besar dengan harga jual yang lebih tinggi, sesampainya dikios pengecer pun begitu, pupuk sengaja ditimbun untuk menunggu harga meninggi. Bak jatuh ditimpa tangga pula, mungkin seperti itulah petani, harga pupuk dan pestisida sudah tinggi, ditambah lagi harga jual produksi yang murah meriah.
Petani benar-benar “kalang kabut”. Logika dan nurani petani sangat dipermainkan. Bagaimana tidak, kalian bisa berpikir kalau petani itu adalah orang yang paling bodoh. Kenapa paling bodoh ? karena petani mau berkorban demi kehidupan orang banyak, padahal petani sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari pengorbanannya itu. Jika petani itu dapat berpikir realistis, pasti petani akan menghentikan pengorbananya, lalu mencari mata pencaharian yang lebih menguntungkan untuknya. Tapi sayangnya, petani nuraninya lebih besar, petani begitu mulia dengan memilih tetap berkorban menghidupi jutaan rakyat Indonesia.
Seharusnya “kalang kabut” nya petani dapat diminimalisir atau bahkan dihapuskan, dengan upaya dari pemerintah, orang-orang yang terlibat langsung dengan petani, atau bahkan yang tidak terlibat langsung dengan petani sekalipun. Lindungilah hak-hak petani sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa, siapapun kalian, tidak peduli pejabat, mahasiswa, siswa, ataupun hanya orang biasa. Upaya tersebut seyogyanya diberikan sebagai tanda terima kasih atas kemuliaanya. Setidaknya jangan sampai ada slogan “Petani adalah pahlawan kehidupan yang terabaikan”.

0 comments:

Post a Comment