Monday, June 19, 2017

"Husnudzon, Bidikmisi Membuat Kaya"

Sebelum bercerita panjang lebar, aku minta maaf dulu deh sama orang-orang yang terlibat dalam cerita panjangku ini nanti. Tujuannya sih cuma untuk kebaikan bersama, nggak lebih dari itu, simpel aja, santai. Di antara kalian yang baca postingan ini, pasti sudah banyak lah dari kalian yang mengerti tentang bidikmisi, bidikmisi kan terkenal, nggak kayak aku hehe. Untuk yang belum ngerti aku jelasin dikit aja ya, bidikmisi itu adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah yang disalurkan melalui tangan Kemenristek Dikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi). Bantuan biaya ini berupa kebebasan membayar biaya kuliah selama 8 semester untuk jenjang DIV/S1, 6 semester untuk jenjang DIII dan mendapat uang saku tiap semesternya sebesar 600ribu. Enak nggak ? enak dong, nggak bayar kuliah, sudah gitu kuliah dapat saku dari pemerintah. Nikmat mana yang engkau dustakan ? wkwk.
Tujuan dari adanya bidikmisi ini sih katanya untuk membantu calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik. Itu sih bagiku tetap katanya, because pada kenyataannya, nggak sedikit kok yang salah sasaran. Ini aku bercerita soal fakta di lapangan ya, emang nggak banyak sih tapi ada 1, 2, 3, dst. Aku punya teman SMA pinter banget, rajin, nasionalisme tinggi, pokoknya baik lah, tapi sayangnya aja, dia anak orang nggak mampu. Ayah ibunya seorang petani sawah biasa, makan enak kalau panen, insyaAllah. Namanya juga anak yang pintar ya, cita-cita pasti tinggi, harapan besar untuk mengubah nasib keluarganya menjadi yang lebih baik dengan kepintaran yang dia miliki. Konon katanya dia ingin masuk jurusan Akuntansi. Emang nggak salah sih, dia anak eksak tapi pintar juga dipelajaran ekonomi, bahkan dia masuk jadi bagian tim OSN ekonomi sekolah. Dapatlah 1, 2 piagam penghargaan hasil lomba ekonomi itu. Singkat ceritanya dia daftar SBMPTN, dan benar keterima di salah satu universitas negeri favorit di Indonesia. Akan tetapi masalahnya, dia emang keterima di jurusan yang dia inginkan, tapi tidak dengan bidikmisinya. Pengajuan bidikmisinya ditolak, otomatis kalau dia pengen kuliah, harus modal sendiri. Untuk yang belum tau ya, dulu pas zamanku seleksi bidikmisi itu disendirikan, jadi meskipun keterima SBMPTN/ SNMPTNnya belum tentu bidikmisinya keterima. Besar harapan temenku sih kalaupun harus bayar, maksimal 1 juta lah. Eh ternyata, eh ternyata, waktu pengumuman UKT (Uang Kuliah Tunggal), dia dapat UKT 4 juta. Weh, jauh banget dari harapan, 1 juta aja masih pikir-pikir ya, apalagi 4 juta. Bayangin aja tuh darimana keluarganya bisa dapat uang 4 juta setiap 6 bulan, makan aja susah. Akhirnya, mimpinya itupun di kubur dalam-dalam, dia harus mengundurkan diri hanya karena satu alasan yang bagiku, itu bukanlah kesalahan dia. Entah siapa yang harus disalahkan, bagiku dia tetaplah korban dari sebuah kebijakan yang tidak adil.
Oke, aku bukanlah orang yang menjudge tanpa alasan. Aku punya sebuah alasan kenapa, aku sampai bilang bahwa dia adalah korban dari kebijakan yang tidak adil. Ketika aku masuk kuliah, otomatis aku ada di antara orang-orang yang lolos seleksi bidikmisi. Semakin ku amati, semakin mengejutkan, semakin mengherankan. Kenapa ? jujur aja mereka yang aku amati itu, orang kaya. Bukan hanya 1 orang yang ku amati, 1, 2, 3, ada. Pertanyaanku, kenapa mereka yang mampu bisa mendapatkan bidikmisi itu, sedangkan temanku yang tidak mampu tidak mendapatkannya ?. Mereka bagiku benar-benar orang mampu, mereka kuliah pakai motor, bahan elektronik digenggaman harganya ngalahin yang kuliah reguler, makan tiap hari sebagai anak kos enak, harga kos mahal, rumahnya pun bagus, mereka nggak yatim piatu juga, pintar juga sedang. Terus pertanyaanya, apa yang membuat mereka mendapatkan bidikmisi ? Orang tidak mampu ? Memiliki potensi akademik ?. Entahlah, ku rasa pertanyaan itu adalah sebuah retorika. Siapa yang mau disalahkan juga nggak tau, kenapa bisa salah sasaran sebabnya juga nggak tau.
Husnudzon aja lah, mungkin orang-orang yang aku amati itu jadi kaya setelah mendapatkan biaya bidikmisi dari pemerintah. Waktu seleksi bidikmisi, dia emang benar-benar orang tidak mampu. Kalaupun emang benar salah sasaran, butuh berapa korban lagi ?. Aku ingin dari pihak manapun introspeksi diri, sadar, apa yang salah dari pihak mereka. Misal aja yang dari pihak calon mahasiswa, dilihat lagi keluarganya sebelum mengajukan bidikmisi, kalau mampu jangan berpura-pura untuk tidak mampu. Kasihan kan kalau ada orang yang benar-benar nggak mampu, dia pintar, dia mau kuliah, tapi malah nggak bisa kuliah hanya gara-gara kesempatannya dirampas oleh orang-orang serakah.

Husnudzon, Bidikmisi Membuat Kaya

Wednesday, June 14, 2017



Petaniku Kalang Kabut

Negara Indonesia adalah negara agraris. Luas lahan pertanian yang dimiliki Indonesia 39.5 Juta Ha dengan pembagian, Lahan Sawah 8.1 Juta Ha, Tegal/Kebun 11.9 Juta Ha, Ladang 5.25 Juta Ha, dan, Lahan yang sementara tidak diusahakan 14.25 Juta Ha (sumber : www.pertanian.co.id). Luas tersebut memakan sekitar 23% luas daratan Indonesia. Maka, pantas saja Indonesia disebut sebagai negara agraris.
Wawancara dengan petani
Negara agraris ? apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata itu selain banyak sawah ?. Ingat dengan petani ? petani sebagai dalang dari adanya negara agraris, itu tidak dapat dipungkiri. "Petani", apa yang terpikir oleh kalian jika mendengar kata tersebut, sawah, lumpur, tanaman, pekerja keras atau bahkan manusia dengan bau terik matahari ?. Petani memang identik dengan kata-kata itu, tapi sadarkah kita dengan adanya petani, dengan sebuah profesi yang identik dengan lumpur di sawah ?. Tanpa mereka mungkin saat ini kita tak lagi bisa hidup, mau makan apa kita tanpa petani, karena hasil kerja keras petani bergulat dengan lumpur, memeras keringat ditengah panas dan hujan demi menghasilkan produk pertanian yang selanjutnya dapat kita konsumsi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hal makan.
Dikutip dari data BPS, yang menyatakan bahwa setiap orang membutuhkan beras 139 Kg/tahun atau 380 gr/hari. Sedikit bukan ? ya, sedikit karena hanya satu orang. Padahal, penduduk Indonesia lebih dari 250 juta orang. Jika dihitung-hitung, Indonesia tiap tahun harus menyediakan beras berjuta-juta ton. Itu hanya beras, belum kebutuhan pangan yang lain. Bisa dibayangkan bagaimana kerja kerasnya petani untuk menghidupi jutaan manusia Indonesia. Pernahkan kalian yang dihidupi oleh petani, memikirkan nasibnya ?. Petani tinggal jauh dari hiruk pikuk indahnya lampu-lampu jalan yang menghiasi setiap sudut kota yang indah. Petani hidup dalam garis kemiskinan di daerah-daerah terpencil yang jauh dari fasilitas negara yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Menghasilkan produk pertanian bagi petani bukanlah hal yang mudah, banyak yang harus dilakukan oleh petani, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan, panen, sampai pasca panen. Semua hal tersebut bukan tanpa biaya, tapi sangat membutuhkan banyak biaya. Pada kenyataannya, petani sering merugi, meskipun berproduksi. Hal tersebut disebabkan karena biaya produksi lebih tinggi daripada hasil jual dari produksi itu sendiri. Biaya produksi yang tinggi diakibatkan karena unsur-unsur produksi juga sangat mahal, terutama pupuk, meskipun ada subsidi pupuk dari pemerintah. Fakta yang terjadi di lapangan, tak banyak petani yang mendapatkan pupuk bersubsidi. Pupuk yang seharusnya dinikmati petani, justru menjadi santapan empuk para distributor nakal yang oper-oper pupuk ke perkebunan-perkebunan besar dengan harga jual yang lebih tinggi, sesampainya dikios pengecer pun begitu, pupuk sengaja ditimbun untuk menunggu harga meninggi. Bak jatuh ditimpa tangga pula, mungkin seperti itulah petani, harga pupuk dan pestisida sudah tinggi, ditambah lagi harga jual produksi yang murah meriah.
Petani benar-benar “kalang kabut”. Logika dan nurani petani sangat dipermainkan. Bagaimana tidak, kalian bisa berpikir kalau petani itu adalah orang yang paling bodoh. Kenapa paling bodoh ? karena petani mau berkorban demi kehidupan orang banyak, padahal petani sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari pengorbanannya itu. Jika petani itu dapat berpikir realistis, pasti petani akan menghentikan pengorbananya, lalu mencari mata pencaharian yang lebih menguntungkan untuknya. Tapi sayangnya, petani nuraninya lebih besar, petani begitu mulia dengan memilih tetap berkorban menghidupi jutaan rakyat Indonesia.
Seharusnya “kalang kabut” nya petani dapat diminimalisir atau bahkan dihapuskan, dengan upaya dari pemerintah, orang-orang yang terlibat langsung dengan petani, atau bahkan yang tidak terlibat langsung dengan petani sekalipun. Lindungilah hak-hak petani sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa, siapapun kalian, tidak peduli pejabat, mahasiswa, siswa, ataupun hanya orang biasa. Upaya tersebut seyogyanya diberikan sebagai tanda terima kasih atas kemuliaanya. Setidaknya jangan sampai ada slogan “Petani adalah pahlawan kehidupan yang terabaikan”.

Nasib Pahlawanku

Tuesday, May 16, 2017

 Prospek Jurusan, Gali Kubur ?
Pilmitanas Mataram 2017
Memasuki gerbang kuliah, seakan kamu ditantang untuk mulai merancang masa depan dengan sebaik-baiknya, dengan orientasi setelah lulus kuliah dapat kerja yang menjanjikan. Memilih jurusan kuliah tak boleh asal-asalan, asal ayah ibu senang, asal kuliah, atau bahkan ngikut-ngikut teman. Saat kamu memilih jurusan kuliah, sama halnya dengan saat kamu memilih teman hidup. Jurusan yang kamu ambil adalah separuh dari jiwamu, salah pilih jurusan, hilang deh separuh jiwamu.
Namun, ada kalanya ketika sudah jadi mahasiswa, kamu dihadapkan pada dilema tingkat dewa. What is the problem ?. Problemnya adalah jurusan yang kamu ambil saat ini tidak cocok dengan passion kamu, atau bahkan kamu minder dengan jurusanmu karena tidak dikenal orang. Tatkala, kamu mencoba berdamai dengan problem-problem tersebut, tapi nyatanya tetap saja hatimu memberontak. Apalagi, melihat teman-temanmu yang memutuskan pindah jurusan. Kamu semakin bimbang dan hilang arah. Ingin rasanya mengikuti jejak mereka, meninggalkan jurusan yang saat ini sudah kamu tekuni selang beberapa waktu lamanya, dan hijrah ke jurusan lainnya yang orang lain katakan “favorit”.
Guys, disini aku akan sedikit banyak bercerita tentang salah satu jurusan kuliah yang terindikasi problem-problem seperti yang telah tersebut. Pernah lihat tukang gali kubur ? Ya, kalian pasti tahulah. Mereka menggali tanah berbentuk persegi, persegi panjang, yang digunakan sebagai liang lahatnya. Tapi pernahkah kalian berpikir apa saja yang sebenarnya ada dalam tanah itu ? dan apakah kalian juga tahu bahwa hal-hal tersebutlah yang dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa Ilmu Tanah ?. Benar adanya memang, mahasiswa Ilmu Tanah mempelajari apa yang ada di dalam tanah dan apa saja yang berkaitan tentang tanah.
Sebab mahasiswa Ilmu Tanah mempelajari apa yang ada di dalam tanah, maka tak jarang mereka harus gali-gali tanah. Ya, sangat mirip dengan tukang gali kubur. Oleh karena itu, mereka tak jarang juga mendapat pertanyaan ataupun sebuah ejekan “Jadi anak tanah, mau jadi apa ? Tukang gali kubur ya ?” sakit nggak sih dibilangin kayak gitu guys. Meskipun tukang gali-gali tanah, nggak gitu juga kali, belum tau sih aslinya anak tanah gimana. Haha
Jurusan Ilmu Tanah terdiri dari dua konsentrasi ilmu yang dipelajari, yaitu bidang ilmu kebumian (Geologi dan Geografi) dan bidang ilmu pertanian. Saat ini, kebanyakan jurusan Ilmu Tanah berada di bawah naungan Fakultas Pertanian. Padahal jika ditelaah dari materi kuliah dan praktikumnya, Ilmu Tanah mirip dengan keteknikan tapi juga ada pertaniannya. Itulah salah satu keistimewaan dari Ilmu Tanah. Ibarat angkatan militer, mahasiswa Ilmu Tanah adalah pasukan baret merah. Kenapa bisa pasukan merah ? sebab mahasiswa Ilmu Tanah adalah orang-orang pertama yang terjun ke lapangan, ketika ada masalah yang berhubungan dengan tanah. Bisa dilihat, hampir semua masalah berhubungan dengan tanah, mulai dari bidang pertanian, sosial, politik, ekonomi, tak ada yang lepas dari tanah.
Ilmu yang akan dikuasai mahasiswa jurusan Ilmu Tanah yaitu SIG (Sistem Informasi Geografi), Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Ilmu Tanah Regional, Ekologi, Kualitas Tanah, Analisis Tanah-Air-Tanaman, Konservasi Tanah-Air, Reklamasi Lahan Tambang, Agrogeologi, Mineralogi Tanah, Agroklimatologi, Manajemen Agrobisnis, Manajemen Kewirausahaan, Agrohidrologi, Pengelolaan Air, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Ilmu Ukur Tanah, Kartografi, dan UU Pertanahan. Begitu kompleks apa yang dipelajari, sehingga prospek kerjanya sangat luas. Kerjanya bisa di Departemen Pertanian, Kehutanan, Sumber Daya Mineral dan Energi, Perkebunan, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), BPN (Badan Pertanahan Nasional), Badan Lingkungan Hidup, BPDAS, Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), Bakosurtanal, Lembaga Penelitian, Perusahaan Perkebunan, Konsultan Pupuk, Perusahaan Pertambangan, Perusahaan Hutan Tanaman, dan pekerjaan sejenis lainnya.
Jurusan Ilmu Tanah paling cocok buat kalian yang suka ngetrip. Tiap semester, pasti akan ada field trip. Field tripnya nggak kalah kok sama trip-trip yang dilakukan anak Teknik Geologi, Teknik Geodesi, Kartografi, dan sejenisnya. Field tripnya mulai dari pantai (dataran 0 mdpl) sampai daerah pegunungan yang tingginya macam-macam. Seru binggo deh pokoknya. ^_^
            Ilmu Tanah pada dasarnya memang tidak begitu “favorit”, bahkan saat ini dipandang masyarakat sebagai jurusan yang prospek kerjanya “Gali Kubur”. Akan tetapi, setelah mengerti apa yang dipelajari dan seperti apa sebenarnya prospek kerja, jurusan Ilmu Tanah harusnya tidak dipandang sebelah mata, apalagi dianggap sebagai “Tukang Gali Kubur”. Sebab, Ilmu Tanah adalah ilmu mendasar yang dapat digunakan dalam menjawab problem di segala bidang. Saat ini permasalahan apapun, menyangkut tanah, dan mahasiswa jurusan Ilmu Tanah yang dapat menjawabnya. So, jangan takut untuk katakan “Viva Soil !”

Prospek Jurusan Ilmu Tanah

Saturday, May 14, 2016




FOTOSINTESIS
LAPORAN PRAKTIKUM















 





                                                                             

Disusun oleh :
1.     Andita Sari P.W.
2.     Diana Permatasari
3.     Indri Saraswati
4.     M. Anas I.
5.     Wiwik Setyowati


SMA NEGERI 1 JAKENAN
TAHUN PELAJARAN 2015/ 2016

Laporan Praktikum
Fotosintesis

A.    Landasan Teori
Fotosintesis adalah salah satu contoh dari proses Anabolisme. Fotosintesis : Peristiwa penyusunan zat organik (gula)  dari zat anorganik (CO2 dan H2O) dengan pertolongan energi cahaya.  Karena bahan baku yang digunakan adalah CO2 (zat karbon) maka fotosintesis dapat pula disebut asimiliasi karbon. Proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau dapat terjadi dengan bantuan:
·         sinar matahari,
·         air,
·         garam mineral yang diserap,
·         karbondioksida dari udara diubah menjadi zat makanan.
Fotosintesis merupakan sintesis yang memerlukan cahaya (fotos = cahaya; sintesis = penyusunan atau membuat bahan kimia). Fotosintesis adalah peristiwa pembentukan karbohidrat dari karbondioksida dan air dengan bantuan energi cahaya matahari. Secara sederhana, reaksi fotosintesis yang melibatkan berbagai enzim dapat dituliskan sebagai berikut:
                                
6CO2 + 6H2O          SM&klorofil             C6H1206 + 6O2
Fotosintesis terjadi di dalam kloroplas. Kloroplas merupakan organel plastida yang mengandung pigmen hijau daun (klorofil). Klorofil merupakan pigmen utama yang terdapat pada tumbuhan yang berfungsi menyerap cahaya matahari. Klorofil dapat dibedakan menjadi klorofil a dan klorofil b. Klorofil a mampu menyerap cahaya merah dan biru keunguan. Klorofil a sangat berperan dalam reaksi gelap fotosintesis. Sedangkan, klorofil b merupakan klorofil yang mampu menyerap cahaya biru dan  merah kejinggaan. Jadi, tumbuhan yang dapat melakukan fotosintesis adalah tumbuhan yang mengandung kloroplas pada daunnya. Oleh karena itu, tumbuhan merupakan produsen makanan (karena dapat menghasilkan makanan dengan bantuan cahaya matahari), dan disebut juga organisme autotrof, yaitu organisme yang dapat membuat makanan sendiri.

B.     Tujuan
Membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan karbohidrat (amilum)

C.    Alat dan Bahan
1.      Daun Hibiscus rosasinensis
2.      Kertas timah
3.      Alkohol
4.      Lugol
5.      Air
6.      Kaki 3
7.      Pembakar spirtus
8.      Beaker lass 100 ml
9.      Korek api
10.  Cawan petri

D.    Prosedur Kerja
1.      Menutup sebagian daun pada tanaman Hibiscus rosasinensis dengan kertas timah, dan yang lain dibiarkan terbuka. Membiarkan selama ±1 minggu. Percobaan dilakukan sebelum matahari terbit.
2.      Pada sore/ pagi sebelum matahari terbit, memetik daun Hibiscus rosasinensis.
3.      Menggunting daun Hibiscus rosasinensis dengan ukuran 3  1 cm.
4.      Merebus air hingga mendidih kemudian merendam daun Hibiscus rosasinensis selama 20 detik.
5.      Mengisi tabung reaksi dengan alkohol hingga ketinggian 2 cm.
6.      Gulung daun Hibiscus rosasinensis kemudian memasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi alkohol, kemudian memasukkan ke dalam beaker glass yan berisi air mendidih, mendiamkannya selama 10 menit.
7.      Mencuci dan membilas daun dengan menggoyangkan daun dengan pinset di dalam beaker glass yang berisi air panas bekas didihan.
8.      Meletakkan pada cawan petri kemudian menetesi dengan larutan lugol.
9.      Mengamati perubahan warna yang terjadi.
10.  Mencatat hasil percobaan pada tabel.

E.     Hasil Praktikum
No.
Perlakuan
Daun Hibiscus rosasinensis
Warna
1
Sebelum perlakuan
Daun terbuka
Hijau
Daun tertutup kertas timah
Hijau
2
Perendaman alkohol dan dididihkan
Daun terbuka
Hijau keputihan
Daun tertutup kertas timah
Hijau keputihan
3
Ditetesi lugol
Daun terbuka
Hitam
Daun tertutup kertas timah
Coklat/ Tetap
F.     Analisis Data
Pada saat daun belum direndam pada alkohol dan ditetesi lugol, warna daun terbuka dan yang ditutup kertas timah sama yaitu berwarna hijau. Kedua daun tersebut kemudian direndam ke dalam alkohol dan didihkan, warna kedua daun berubah menjadi hijau mendekati putih. Warna hijau mendekati putih menandakna bahwa klorofil yang ada dalam daun telah terlarut ke dalam alkohol yang dididihkan. Ketika kedua daun sudah selesai dididihkan di dalam alkohol, daun ditetesi lugol untuk uji amilum. Pada daun yang terbuka, warna daun berubah menjadi hitam, dan pada daun yang tertutup kertas timah beerwarna tetap.

G.    Pembahasan
Fotosintesis adalah proses penyusunan atau pembentukan senyawa komplek dari senyawa sederhana dengan menggunakan energi cahaya. Sumber energi cahaya alami yang digunakan adalah sinar matahari. Bahan yang digunakan dalam proses fotosintesis juga berupa CO2 yang diambil dari udara melalui stomata dan H2O yang diambil dari tanah oleh akar. Fotosintesis terjadinya di daun, di jaringan parenkim palisade yang mengandung banyak klorofil. Klorofil / pigmen hijau yang merupakan salah satu pigmen fotosintetik yang berfungsi untuk menyerap energi cahaya matahari.
Proses fotosintesis menghasilkan amilum. Ini bisa diketahui ketika permukaan daun yang terkena cahaya ditetesi larutan lugol warnanya berubah menjadi biru kehitaman. Bagian daun yang tidak terkena cahaya tidak melakukan fotosintesis, sehingga tidak membentuk amilum. Ketika ditetesi lugol warnyanya tidak berubah.

H.    Kesimpulan
    Dalam proses fotosintesis tumbuhan, tumbuhan akan menghasilkan karbohidrat (amilum) dan proses fotosintesis memerlukan cahaya matahari. Untuk membuktikan ad tidaknya amilum pada daun, maka dengan menggunakan lugol. Daun yang mengandung amilum akan berubah menjadi biru-hitam jika ditetesi dengan lugol, sedangkan jika tidak mengandung amilum maka warnanya coklat ataupun tetap.

I.       Pertanyaan dan Jawaban Pertanyaan
*      Pertanyaan
1.      Apakah tujuan daun direndam dengan air mendidih ?
2.      Apakah tujuan daun direndam dengan alkohol ?
3.      Daun manakah yang berwarna hitam dan yang tetap berwarna putih ? Jelaskan !
*      Jawaban
1.      Tujuan direndamnya daun dalam air mendidih adalah untuk menonaktifkan sel-sel yang ada pada daun.
2.      Tujuan direndamnya daun dalam alkohol adalah untuk melarutkan zat klorofil yang ada pada daun sehingga pada daun tinggal amilumnya saja.
3.      Daun yang berwarna hitam adalah daun yang dibiarkan terbuka/ yang tidak ditutup dengan kertas timah, dan daun yang tetap berwarna putih adalah daun yang ditutup dengan kertas timah. Adanya perubahan warna hitam pada daun yang terbuka ketika ditetesi lugol menandakan bahwa daun tersebut mengandung amilum, sedangkan pada daun yang ditutup kertas timah warnanya tidak berubah menandakan bahwa daun tidak mengandung karbohidrat.

Makalah Fotosintesis