"Husnudzon, Bidikmisi Membuat Kaya"
Sebelum bercerita panjang lebar, aku minta maaf dulu deh sama orang-orang yang terlibat dalam cerita panjangku ini nanti. Tujuannya sih cuma untuk kebaikan bersama, nggak lebih dari itu, simpel aja, santai. Di antara kalian yang baca postingan ini, pasti sudah banyak lah dari kalian yang mengerti tentang bidikmisi, bidikmisi kan terkenal, nggak kayak aku hehe. Untuk yang belum ngerti aku jelasin dikit aja ya, bidikmisi itu adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah yang disalurkan melalui tangan Kemenristek Dikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi). Bantuan biaya ini berupa kebebasan membayar biaya kuliah selama 8 semester untuk jenjang DIV/S1, 6 semester untuk jenjang DIII dan mendapat uang saku tiap semesternya sebesar 600ribu. Enak nggak ? enak dong, nggak bayar kuliah, sudah gitu kuliah dapat saku dari pemerintah. Nikmat mana yang engkau dustakan ? wkwk.
Tujuan dari adanya bidikmisi ini sih katanya untuk membantu calon mahasiswa yang tidak mampu secara
ekonomi dan memiliki potensi akademik. Itu sih
bagiku tetap katanya, because
pada kenyataannya, nggak sedikit kok yang
salah sasaran. Ini aku bercerita soal fakta di lapangan ya, emang nggak banyak sih tapi ada 1, 2, 3, dst. Aku punya
teman SMA pinter banget, rajin, nasionalisme tinggi, pokoknya baik lah, tapi
sayangnya aja, dia anak orang nggak mampu. Ayah ibunya seorang petani sawah
biasa, makan enak kalau panen, insyaAllah.
Namanya juga anak yang pintar ya, cita-cita pasti tinggi, harapan besar untuk
mengubah nasib keluarganya menjadi yang lebih baik dengan kepintaran yang dia
miliki. Konon katanya dia ingin masuk jurusan Akuntansi. Emang nggak salah sih, dia anak eksak tapi pintar juga
dipelajaran ekonomi, bahkan dia masuk jadi bagian tim OSN ekonomi sekolah.
Dapatlah 1, 2 piagam penghargaan hasil lomba ekonomi itu. Singkat ceritanya dia
daftar SBMPTN, dan benar keterima di salah satu universitas negeri favorit di Indonesia.
Akan tetapi masalahnya, dia emang keterima di jurusan yang dia inginkan, tapi
tidak dengan bidikmisinya. Pengajuan bidikmisinya ditolak, otomatis kalau dia
pengen kuliah, harus modal sendiri. Untuk yang belum tau ya, dulu pas zamanku
seleksi bidikmisi itu disendirikan, jadi meskipun keterima SBMPTN/ SNMPTNnya
belum tentu bidikmisinya keterima. Besar harapan temenku sih kalaupun harus bayar, maksimal
1 juta lah. Eh ternyata, eh ternyata, waktu pengumuman UKT (Uang Kuliah
Tunggal), dia dapat UKT 4 juta. Weh, jauh banget dari harapan, 1 juta aja masih
pikir-pikir ya, apalagi 4 juta. Bayangin aja tuh darimana keluarganya bisa dapat uang 4 juta setiap 6 bulan,
makan aja susah. Akhirnya, mimpinya itupun di kubur dalam-dalam, dia harus
mengundurkan diri hanya karena satu alasan yang bagiku, itu bukanlah kesalahan
dia. Entah siapa yang harus disalahkan, bagiku dia tetaplah korban dari sebuah
kebijakan yang tidak adil.
Oke, aku bukanlah
orang yang menjudge tanpa alasan. Aku
punya sebuah alasan kenapa, aku sampai bilang bahwa dia adalah korban dari
kebijakan yang tidak adil. Ketika aku masuk kuliah, otomatis aku ada di antara
orang-orang yang lolos seleksi bidikmisi. Semakin ku amati, semakin
mengejutkan, semakin mengherankan. Kenapa ? jujur aja mereka yang aku amati
itu, orang kaya. Bukan hanya 1 orang yang ku amati, 1, 2, 3, ada. Pertanyaanku,
kenapa mereka yang mampu bisa mendapatkan bidikmisi itu, sedangkan temanku yang
tidak mampu tidak mendapatkannya ?. Mereka bagiku benar-benar orang mampu,
mereka kuliah pakai motor, bahan elektronik digenggaman harganya ngalahin yang
kuliah reguler, makan tiap hari sebagai anak kos enak, harga kos mahal,
rumahnya pun bagus, mereka nggak yatim piatu juga, pintar juga sedang. Terus
pertanyaanya, apa yang membuat mereka mendapatkan bidikmisi ? Orang tidak mampu
? Memiliki potensi akademik ?. Entahlah, ku rasa pertanyaan itu adalah sebuah
retorika. Siapa yang mau disalahkan juga nggak tau, kenapa bisa salah sasaran
sebabnya juga nggak tau.
Husnudzon aja lah,
mungkin orang-orang yang aku amati itu jadi kaya setelah mendapatkan biaya
bidikmisi dari pemerintah. Waktu seleksi bidikmisi, dia emang benar-benar orang
tidak mampu. Kalaupun emang benar salah sasaran, butuh berapa korban lagi ?.
Aku ingin dari pihak manapun introspeksi diri, sadar, apa yang salah dari pihak
mereka. Misal aja yang dari pihak calon mahasiswa, dilihat lagi keluarganya
sebelum mengajukan bidikmisi, kalau mampu jangan berpura-pura untuk tidak
mampu. Kasihan kan kalau ada orang yang benar-benar nggak mampu, dia pintar,
dia mau kuliah, tapi malah nggak bisa kuliah hanya gara-gara kesempatannya
dirampas oleh orang-orang serakah.




0 comments:
Post a Comment